Selasa, 20-02-2024
  • [] Berkhidmat pada Sunnah Nabawiyyah sesuai Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah [] "Ketahuilah bahwa ilmu yang tidak menjauhkanmu dari maksiat dan mendorongmu untuk beribadah pada hari ini, tidak akan bisa menjauhkanmu dari api neraka esok hari." (Imam al-Ghazali dalam Ayyuhal Walad)

Mengembalikan Kebenaran pada Tempatnya

Diterbitkan : - Kategori : Jarh wa Ta'dil / Uncategorized

(Sebuah Pelajaran dari Para Ulama Jarh wa Ta’dil)

Dalam menilai seseorang, para ulama jarh wa ta’dil menyampaikan seperlunya sesuai dengan kewajiban yang Allah dan Rasul-Nya wajibkan pada mereka, yakni “mengembalikan kebenaran pada tempatnya”. Hal itu tidak dengan menghina dan mencerca atas yang bersangkutan. Bahkan para ulama jarh wa ta’dil seperti amirul mu’minin fil hadits al-Imam al-Bukhari, dll menggunakan bahasa yang sangat santun.
.
Mengapa demikian? Sekali lagi tujuan mereka para ulama –sebagaimana dijelaskan oleh al ‘Allamah al-Syaikh al-Muhaddits al-Ushuli Abdul Aziz ibn Siddiq al-Ghumari– adalah “mengembalikan kebenaran pada tempatnya..”, dan itu tidak mengharuskan kita menjadi tukang umpat atau tukang cerca. Itulah akhlak para ulama jarh wa ta’dil.
.
Ini pula yang seharusnya kita semua pegang teguh karena mereka (para ulama) adalah termasuk teladan kita. Hal tersebut karena mereka warisi dari generasi-generasi sebelumnya, shahabat radhiyallahu ‘anhum, dan sahabat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
.
Maka yang kita lakukan saat harus menilai orang lain bukan seperti tukang fitnah dan tukang cemooh. Tapi yang kita lakukan adalah sebagaimana para ulama jarh wa ta’dil. Mengapa? Karena himmah kita adalah sebagaimana himmah para ulama jarh wa ta’dil, yakni “mengembalikan kebenaran pada tempat yang seharusnya.” Wallahu a’lam.
.
.
Yuana Ryan Tresna

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan