Menu Close

PENJELASAN SINGKAT TERKAIT HADITS PUSAT DARUL ISLAM (UQRU DAR AL-ISLAM) DI AL-QUDS

Oleh: Yuana Ryan Tresna

Berikut adalah teks hadits beserta sanadnya,

قَرَأْتُ بِخَطِّ أَبِي الْحُسَيْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الرَّازِيِّ ، أنا أَبُو الْحَسَنِ أَحْمَدُ بْنُ عُمَيْرِ بْنِ جَوْصَا ، أَنْبَأَنَا أَبُو عَامِرٍ مُوسَى بْنُ عَامِرٍ ، أَنْبَأَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ ، أَنْبَأَنَا مَرْوَانُ بْنُ جَنَاحٍ ، عَنْ يُونُسَ بْنَ مَيْسَرَةَ بْنِ حَلْبَسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” هَذَا الأَمْرُ كَائِنٌ بَعْدِي بِالْمَدِينَةِ ، ثُمَّ بِالشَّامِ ، ثُمَّ بِالْجَزِيرَةِ ، ثُمَّ بِالْعِرَاقِ ، ثُمَّ بِالْمَدِينَةِ ، ثُمَّ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ ، فَإِذَا كَانَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ فَثَمَّ عُقْرُ دَارِهَا ، وَلَنْ يُخْرِجَهَا قَوْمٌ فَتَعُودَ إِلَيْهِمْ أَبَدًا ” . يَعْنِي بِقَوْلِهِ بِالْجَزِيرَةِ : أَمْرٌ مَرْوَانَ بْنَ مُحَمَّدٍ الْحَمَّارَ ، وَبِقَوْلِهِ بِالْمَدِينَةِ : بَعْدَ الْعِرَاقِ ، يَعْنِي بِهِ الْمَهْدِيَّ يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ ، ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ وَبِهَا يُحَاصِرُهُ الدَّجَّالُ ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Arti matan hadits: “Perkara ini (khilafah) akan ada sesudahku di Madinah (Yastrib), lalu di Syam, lalu di Jazirah, lalu di Iraq, lalu di Madinah (Konstantinopel), lalu di Al-Quds (Baitul Maqdis). Jika ia ada di al-Quds, pusat negerinya akan ada di sana dan siapa pun yang memaksanya (ibu kota) keluar dari sana (al-Quds), ia tak akan kembali ke sana selamanya.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dalam kitab tarikhnya (Tarikh Dimasyq, 1/185) dan Nu’aim bin Hammad dalam kitabnya (al-Fitan, 276).

Jika kita perhatikan sanad hadits tersebut, maka ada kita bisa menyimpulkan: (1) rawi hadits tersebut terdiri dari rawi tsiqah, shaduq dan ada yang disebut mudallis; dan (2) sanadnya mursal, yakni seorang tabi’in senior mengatakan bahwa Rasulullah bersabda demikian.

Jika diurai maka kita akan temukan daftar rawinya sebagai berikut:

(1) يونس بن ميسرة بن حلبس
al-Hafizh Ibnu Hajar menilai ثقة عابد, dan Imam al-Dzahabi menilai ثقة كبير القدر

(2) مروان بن جناح
Imam al-Dzahabi menilai tsiqah, al-Hafizh Ibnu Hajar لا بأس به, Imam al-Daraquthni mengatakan لا بأس به, Imam Abu Hatim menilai tidak dapat dijadikan sebagai hujjah لا يحتج , dan Imam Ibnu Hibban mencantumkan dalam kitabnya, al-Tsiqat.

(3) الوليد بن مسلم
Imam al-Dzahabi mengatakan dia seorang mudallis كان مدلسا فيتقي من حديثه, dan al-Hafizh Ibnu Hajar juga menilai tsiqah namun banyak melakukan tadlis ثقة ولكنه كثير التدليس والتسوية.

(4) أبو عامر موسى بن عامر
Imam al-Dzahabi menilai ثقة, al-Hafizh Ibnu Hajar menilai صدوق له أوهام, Imam Abu Dawud meriwayatkan haditsnya dan Imam Ibnu Hibban mencantumkan dalam kitabnya al-Tsiqat.

(5) أحمد بن عمير بن جوصا
Imam Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah menilai sebagai الحافظ dan Imam al-Suyuthi dalam Tadzkirah al-Hufazh menilai الإمام الحافظ

(6) محمد بن عبد الله الرازى
Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Imam al-Dzahabi menilai shaduq صدوق.

Hadits ini adalah adalah hadits mursal. Yunus bin Maisarah bin Halbas merupakan tabi’in yang tsiqat, tidak bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau menyatakan bahwa Rasulullah telah bersabda (ada rawi pada thabaqat shahabat yang tidak disebutkan). Para ulama berbeda pendapat soal kehujjahan hadits mursal, ada yang menerima (maqbul) dan menolak (mardud). Jumhur ahli hadits mengatakan mardud secara mutlak. Adapun para fuqaha mengatakan maqbul secara mutlak. Ada juga yang menerima dengan syarat (seperti pendapat imam al-Syafi’i). Prinsip utamanya adalah: semua shahabat sudah dipastikan adil.

Jika kita menerima kemursalan hadits ini (karena terputusanya rawi shahabat tidak memadharatkan hadits), baik secara mutlak atau dengan syarat, tetapi jika diteliti lebih cermat, ada beberapa rawi yang diperdebatkan oleh para ulama meski itu sangat samar (illat). Rawi tersebut adalah مروان بن جناح yang menempati derajat hasan. Sebagian mengatakan tsiqah, tetapi Abu Hatim mengatakan haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah (lihat Ibu Hatim, al-Jarh wa al-Ta’dil, 8/274); dan rawi bernama الوليد بن مسلم yang disebut sebagai seorang tsiqah mudallis dengan bentuk tadlis taswiyah.

Secara makna, hadits ini ada kejanggalan (syadz) jika dibandingkan dengan riwayat yang lebih tsiqah yang mengabarkan terkait dengan kabar gembira kembalinya khilafah. Misalnya dalam riwayat Ibnu Atsir dalam al-Nihayah fi Gharib al-Hadits (3/529) bahwa “uqru dar al-Islam” itu ada di negeri Syam (daerah yang mencakup Yordania, Syria, Palestina, Libanon dan bagian dari Irak). Sebagaimana riwayat-riwayat berikut ini:

  • أخرجه ابن حبان في صحيحه تحت باب: ذكر البيان بأن الشام هي عقر دار المؤمنين في آخر الزمان: من طريق النواس بن سمعان قال… فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «… وعقر دار المؤمنين الشام».
  • أخرجه أحمد من حديث سلمة بن نفيل أنه أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال… فقال له النبي صلى الله عليه وسلم… ألا إن عقر دار المؤمنين الشام…
  • وأخرجه الطبراني في الكبير من طريق سلمة بن نفيل قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «عقر دار الإسلام بالشام».

Semua riwayat di atas statusnya shahih dengan rijal yang tsiqat. Dengan demikian hadits kembalinya khilafah di Baitul Maqdis “diperbincangkan” oleh para ulama baik yang mengatakan shahih/hasan maupun yang mengatakan dha’if.

Hadits tersebut sebenarnya ada syahid (penguat), diantaranya,

هُنَاكَ فِيْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَتَكُوْنُ الْبَيْعَةُ

Artinya: “Di sana, di Baitul Maqdis, akan terjadi baiat (kepada imam/khalifah).” (HR. Ibnu Asakir, al-Hakim).

Hanya saja, syawahid hadits kekhilafahan akan ada di Baitul Maqdis tidak menyebutkan urutan, bahwa khilafah pertama yang akan kembali adalah di Baitul Maqdis. Adapun hadits shahih terkait dengan adanya khilafah di tempat yang disucikan, maksudnya juga adalah negeri Syam (termasuk di dalamnya adalah Palestina). Rasulullah bersabda,

عن عبد الله بن حوالة رضي الله عنه قال: بعثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم حول المدينة على أقدامنا… الحديث، وفي آخره: ثم وضع يده على رأسي ـ أو على هامتي، ثم قال: “يا ابن حوالة إذا رأيت الخلافة قد نزلت الأرض المقدسة، فقد دنت الزلازل والبلايا والأمور العظام، والساعة يومئذ أقرب إلى الناس من يدي هذه من رأسك”

Artinya: Dari Abdullah bin Hawalah radhiyallahu ‘anhu katanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus kami kepada penduduk sekitar Madinah dengan berjalan kaki,…. di akhirnya ia berkata: Kemudian baginda meletakan tangannya di kepalaku, kemudian beliau bersabda: “Ya Ibnu Hawalah, jika kamu melihat khilafah telah turun di Bumi Suci, maka sesungguhnya telah dekatlah gempa bumi, bala bencana dan perkara-perkara besar, dan kiamat pada hari itu lebih dekat kepada manusia dibandingkan dengan tanganku ini dari kepalamu”. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan al-Hakim).

Demikian juga hadits shahih tentang hijrah setelah hijrah,

سَتَكُونُ هِجْرَةٌ بَعْدَ هِجْرَةٍ فَخِيَارُ أَهْلِ اْلأَرْضِ أَلْزَمُهُمْ مُهَاجَرَ إبْرَاهِيْمَ

Artinya: “Akan ada hijrah setelah hijrah. Penduduk bumi paling baik adalah orang yang menempati tempat hijrahnya Ibrahim (Syam).” (HR. Al-Hakim)

Dengan demikian, hadits tersebut di atas ada kecacatan yang sifatnya samar (aspek illalul hadits yang berfaidah dhaif), dan syawahidnya juga tidak bisa menopang dengan menjelaskan urutan khilafah pertama yang akan muncul kembali di Baitul Maqdis. Tetapi hadits tersebut bisa digunakan sebagai targhib (motivasi) bahwa khilafah akan kembali, terlepas dimana pusat kembalinya, apakah di Syam (secara umum) atau di Baitul Maqdis (secara spesifik). Secara pasti hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil bahwa untuk menegakkan khilafah harus berjihad membebaskan Palestina terlebih dahulu. Hadits tersebut dan hadits sejenis juga menunjukkan keutamaan (fadhilah) Baitul Maqdis, bahkan keutamaan umat Islam disana.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لَعَدُوِّهِمْ قَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلَّا مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَحَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيْنَ هُمْ قَالَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ

Artinya: “Senantiasa ada kelompok dari umatku yang menampakkan kebenaran terhadap musuh mereka. Mereka mengalahkannya, dan tidak ada yang membahayakan mereka orang-orang yang menentangnya, hingga datang kepada mereka keputusan Allah ‘azza wa jalla, dan tetaplah dalam keadaan demikian”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, di manakah mereka?” Rasulullah bersabda, “Di Baitul Maqdis dan di sisi sisi Baitul Maqdis”. (HR. Ahmad, Thabaraniy, Ibnu Huzaimah)

Bahkan sebagian juga menjadikan hadits tersebut sebagai isyarat bahwa Palestina (al-Quds di dalamnya) adalah masalah umat Islam sedunia, bukan persoalan Palestina dan Negeri-negeri Arab saja.

Tanggung jawab kita sekarang adalah berkontribusi membebaskan Palestina dari pejajahan Israel. Palestina adalah negeri yang dimuliakan dan negeri yang kelak akan menjadi pusat darul Islam. Wallahu a’lam. []

13 Desember 2017
Yuana Ryan Tresna

Scroll Up