Menu Close

TEGAR BERKATA YANG BENAR

Banyak yang ragu untuk berkata benar. Hanya karena masih memperhatikan penilaian dan ridha manusia. Imam Ahmad bin Hanbal telah meninggalkan pesan yang amat dalam,



تركت رضى الناس حتى قدرت أن أتكلم بالحق.

“Aku tinggalkan ridha manusia, hingga aku mampu untuk berbicara menyampaikan kebenaran.” [Siyar A’lam an-Nubala’, 11/34]

Hari ini, banyak yang ragu bahkan takut untuk jujur mengatakan bahwa khilafah adalah ajaran Islam. Umat juga kian bingung, tokoh mana yang harus diikuti, karena sebagian mereka menyembunyikan kebenaran itu.

Imam Al Ghazali pernah menyampaikan suatu resep penting,

اعلم أن من عرف الحق بالرجال حار في متاهات الضلال فاعرف الحق تعرف أهله إن كنت سالكاً طريق الحق وإن قنعت بالتقليد والنظر إلى ما اشتهر من درجات الفضل بين الناس فلا تغفل عن الصحابة وعلو منصبهم فقد أجمع الذين عرضت بذكرهم على تقدمهم وأنهم لا يدرك في الدين شأوهم ولا يشق غبارهم ولم يكن تقدمهم بالكلام والفقه بل بعلم الآخرة وسلوك طريقها

“Ketahuilah bahwa siapa yang mengukur kebenaran dengan tokoh, ia akan tersesat dalam lembah kebingungan. Maka kenalilah kebenaran, pasti kamu akan tahu siapa pemiliknya, jika kamu benar-benar ingin meniti jalan kebenaran.

Tapi jika kamu hanya puas dengan ikut-ikutan dan melihat tren ketokohan manusia, maka jangan lupa tentang shahabat dan ketinggian derajat mereka yang tidak tertandingi. Semua itu diperoleh bukan melalui jalur kalam atau fikih, melainkan melalui jalur ilmu akhirat dan meniti jalannya.” [Ihya Ulumiddin, 1/173].

Cukuplah bagi para pengemban kebenaran hadits Nabi berikut sebagai motivasi,

لاَ يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ.

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang membela (kebenaran) hingga ketetapan Allah datang kepada mereka dan mereka dalam keadaan menang.” [HR. Bukhari].

(Yuana Ryan Tresna)

TEGAR BERKATA YANG BENAR

Banyak yang ragu untuk berkata benar. Hanya karena masih memperhatikan penilaian dan ridha manusia. Imam Ahmad bin Hanbal telah meninggalkan pesan yang amat dalam,‏


تركت رضى الناس حتى قدرت أن أتكلم بالحق.

“Aku tinggalkan ridha manusia, hingga aku mampu untuk berbicara menyampaikan kebenaran.” [Siyar A’lam an-Nubala’, 11/34]

Hari ini, banyak yang ragu bahkan takut untuk jujur mengatakan bahwa khilafah adalah ajaran Islam. Umat juga kian bingung, tokoh mana yang harus diikuti, karena sebagian mereka menyembunyikan kebenaran itu.

Imam Al Ghazali pernah menyampaikan suatu resep penting,

اعلم أن من عرف الحق بالرجال حار في متاهات الضلال فاعرف الحق تعرف أهله إن كنت سالكاً طريق الحق وإن قنعت بالتقليد والنظر إلى ما اشتهر من درجات الفضل بين الناس فلا تغفل عن الصحابة وعلو منصبهم فقد أجمع الذين عرضت بذكرهم على تقدمهم وأنهم لا يدرك في الدين شأوهم ولا يشق غبارهم ولم يكن تقدمهم بالكلام والفقه بل بعلم الآخرة وسلوك طريقها

“Ketahuilah bahwa siapa yang mengukur kebenaran dengan tokoh, ia akan tersesat dalam lembah kebingungan. Maka kenalilah kebenaran, pasti kamu akan tahu siapa pemiliknya, jika kamu benar-benar ingin meniti jalan kebenaran.

Tapi jika kamu hanya puas dengan ikut-ikutan dan melihat tren ketokohan manusia, maka jangan lupa tentang shahabat dan ketinggian derajat mereka yang tidak tertandingi. Semua itu diperoleh bukan melalui jalur kalam atau fikih, melainkan melalui jalur ilmu akhirat dan meniti jalannya.” [Ihya Ulumiddin, 1/173].

Cukuplah bagi para pengemban kebenaran hadits Nabi berikut sebagai motivasi,

لاَ يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ.

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang membela (kebenaran) hingga ketetapan Allah datang kepada mereka dan mereka dalam keadaan menang.” [HR. Bukhari].

(Yuana Ryan Tresna)

Scroll Up