Membaca khidmat para ulama pada ilmu yang di luar nalar kita yang lemah, kadang kita malah sibuk bertanya-tanya mengapa itu terjadi pada mereka (para ulama) dan apakah hal itu tepat atau tidak, apakah itu tidak berlebihan, dll. Sementara kita tidak bisa menangkap pesan pentingnya. Apa? Khidmat pada ilmu yang total. Begitulah seharusnya kita. Bentuknya? Silahkan kita bisa takar kemampuan kita masing-masing.

Pada diri para ulama, Allah titipkan ilmu yang melampaui orang-orang pada zamannya. Di antara para ulama hafal al-Quran, ribuan Hadits, berbagai matan kitab sejak usia belia.

Ikhwah fillah bagaimana kalau kita baca biografi para ulama di era Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in? Apakah akan terperanjat sampai berteori bahwa itu tidak baik? Demi Allah itu sikap yang tidak tepat. Silahkan baca kitab Siyar A’lam an-Nubala karya Imam adz-Dzahabi, atau yang kontemporer karya syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah (Shafahat min Shabril Ulama atau Qimah az-Zaman ‘indal Ulama).

 

 

 

 

Dan lain-lain. Silahkan baca di kitab-kitab Biografi para ulama seperti yang saya sebutkan di atas.

Apakah semua kisah tersebut fiktif? Demi Allah itu semua nyata. Ada riwayatnya dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika membaca khidmat total para ulama, lantas apa yang harus kita lakukan? Pertama, memuji Allah karena Allah menakdirkan ada orang-orang yang dipilih-Nya untuk dititipi ilmu yang melebihi capaian orang pada zamannya. Berkat mereka ilmu-ilmu syariah terjaga kemurniannya.

Apa lagi? Kedua, kita harus belajar mengambil pelajaran dengan melakukan pengorbanan terbaik kita, khidmat pada ilmu dan ummat. Meski tidak mampu menyamai mereka, paling tidak pada kadar maksimal yang kita lakukan.

Hari ini, dengan izin Allah, masih ada orang yang meninggalkan pekerjaan, rumah dan kendaraan yang mapan, dan berbagai fasilitas dunia lainnya demi fokus pada ilmu. Karena pada titik tertentu, ilmu tidak bisa dipelajari secara sampingan.

Yuana Ryan Tresna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *